Itulah juduh Highlight Metro TV malam ini (Sabtu 31 Juli 2010). Ditambah lagi dengan ulah Pong Hardjatmo yang menuliskan JUJUR, ADIL dan TEGAS di atap gedung DPR. Benar-benar sebuah 'strike' buat (anggota) DPR.
Bukannya mau so' jadi komentator. Hanya ingin menyampaikan pikiran. Dua hari ini gambar dan video tentang tingkah anggota DPR ketika rapat wara wiri diTV (walaupun masih kalah populer dengan si Keong Racun). Menarik ketika melihat yang 'terpilih' duduk berpangku tangan (dalam arti yang sebenarnya a.k.a tidur), atau kepala manggut-manggut (tapi bukan karena mengerti), atau tangan yang menutupi wajah (tapi bukan karena berpikir), atau sibuk meng-up date status (sempat banget ya?!). Ulah titip tanda tangan jadi tambahan daftar hitam. Aduh, Bapak/Ibu yang terhormat ini bukan kuliah lagi. Ini rapat, rapat untuk membahas masalah rakyat.
Is..is..is..gaji berjuta-juta dan fasilitas mewah jadi tak sebanding
WAKIL RAKYAT SEHARUSNYA MERAKYAT
JANGAN TIDUR WAKTU SIDANG SOAL RAKYAT
WAKIL RAKYAT BUKAN PADUAN SUARA
HANYA TAHU NYANYIAN LAGU 'SETUJU'
(surat buat wakil rakyat, Iwan Fals)
31 July 2010
29 May 2010
Perubahan itu Selalu Ada
Sudah sering aku melewati gerbang lorong tempat aku tinggal sekarang tapi baru beberapa hari belakangan aku menyadari kalau ada yang berubah di sana. Dulu di kiri kanannya, ada gerombolan becak yang 'nangkring' menunggu penumpang. Tapi sekarang, mereka menghilang, tergantikan oleh yang lebih keren dan modern. Dialah si 'bentor'- becak motor. Senang sih melihatnya karena daya jangkau bentor emang lebih jauh dibandingkan becak yang hanya menggunakan tenaga manusia. Dan lagi-lagi, mesin mengerus yang 'manual'.
Sebuah perkembangan yang baik tapi uang selalu punya dua mata sisi. Mungkin segalanya jadi akan lebih mudah sekarang. Tukang becak tidak perlu lagi menguras kerngat untuk mengayuh becaknya. Hanya saja, apakah semua tukang becak yang dulunya sering nangkring memiliki kemampuan untuk membeli atau menyewa sebuah bentor? Jika jawabannya tidak, kemanakah mereka sekarang mencari lahan nafkah?
Pertanyaan di atas hanyalah sebuah pengantar agar kita untuk beberapa saat merenungi segala perubahan yang terjadi. Mungkin dia ada dalam diri kita sendiri atau orang terdekat kita. Yah, perubahan itu akan selalu ada. Walaupun tidak semua perubahan itu 'baik'. Namun yakinlah...jika ingin menjadi lebih baik, maka sesuatu itu harus berubah.
Sebuah perkembangan yang baik tapi uang selalu punya dua mata sisi. Mungkin segalanya jadi akan lebih mudah sekarang. Tukang becak tidak perlu lagi menguras kerngat untuk mengayuh becaknya. Hanya saja, apakah semua tukang becak yang dulunya sering nangkring memiliki kemampuan untuk membeli atau menyewa sebuah bentor? Jika jawabannya tidak, kemanakah mereka sekarang mencari lahan nafkah?
Pertanyaan di atas hanyalah sebuah pengantar agar kita untuk beberapa saat merenungi segala perubahan yang terjadi. Mungkin dia ada dalam diri kita sendiri atau orang terdekat kita. Yah, perubahan itu akan selalu ada. Walaupun tidak semua perubahan itu 'baik'. Namun yakinlah...jika ingin menjadi lebih baik, maka sesuatu itu harus berubah.
Labels:
Berbagi Pengalaman,
The life goes...
17 May 2010
Harry Potter and The Deathly Hallows Official Trailer
Buat para Harry Potter Lovers, ni wajib di tonton. Sayang, launchnya masih lama.
Hide and seek vs P.S
Pada suatu malam beberapa teman kost dan aku ngumpul-ngumpul. Sunnatullah, kalau cewek-cewek pada ngumpul cerita pun bermula dan menjalar seperti jaring laba-laba, dari tema yang satu ke tema berikutnya. Dan akhirnya, sampailah kami di tema permainan masa kecil. Mulai dari bongkar pasang a.k.a jiji, wayang, kuartet, lompat tali, bola kasti, boy, ampang, cukke', kelereng, galacang, serta hide and seek. Mengenang semua tawa keceriaan serta keluguan saat itu sangat menyenangkan apalagi di antara masalah hidup yang selalu saja ada.
Dan hari ini, aku duduk di angkot 'mendengarkan' celoteh dua anam SMP yang hanya berkisar seputar facebook, twitter, dan PS alias play-station. Permainan tradisional sudah tergerus oleh teknologi. Tidak ada jerit tawa saat tertangkap atau halaman hijau tempat berlari dan bersembunyi atau pertengkaran kecil sesama teman karena tidak menerima kekalahan. Yang ada hanya kotak bergambar dan dunia maya.
Dan hari ini, aku duduk di angkot 'mendengarkan' celoteh dua anam SMP yang hanya berkisar seputar facebook, twitter, dan PS alias play-station. Permainan tradisional sudah tergerus oleh teknologi. Tidak ada jerit tawa saat tertangkap atau halaman hijau tempat berlari dan bersembunyi atau pertengkaran kecil sesama teman karena tidak menerima kekalahan. Yang ada hanya kotak bergambar dan dunia maya.
Labels:
Berbagi Pengalaman,
The life goes...
16 May 2010
Si Pelapor, sang 'Juru Selamat'
'Natau mi ibu kos kalau kunci rumah hilang.'
'Apa?'
'Matimi ja,'
'Dari mana mu tau?'
Berita itu menggegerkan penghuni kos. Bangkai yang selama ini tersimpan baik-baik tercium juga pada akhirnya.
'Ada bd yang melapor,' tambah si pembawa berita. Semua yang ada dikamar no 6 sontak berucap, 'siapa?'
Tp si pembawa berita hanya geleng kepala. Katanya ibu kos tidak mau memberi tahu.
Tersangka si pelapor, si pembawa malapetaka. Ya, pembawa bencana.
'Yah, siapkan saja mental kalian besok,' ucap kami pasrah. Rasa jengkel terhadap si pelapor menggumpal.
Ibu kos kami cukup killer. Sebenarmya maksud dan tujuannya baik, hanya saja suaranya yang menggelegar dan kata-katanya yang menusuk menjadi momok menakutkan bagi kami. Sekali marah, suaranya bisa kedengaran sepanjang lorong dan ceramahnya bisa berdurasi sampai2 jam.
Tapi keesokan harinya, menunggu dengan hati dag dig dug, beliau tidak kunjung nongol.
'Sepertinya ibu pengen kita pengakuan dosa langsung dihadapannya.' Hati kami serasa menciut mendengar saran tersebut tapi jika dibandingkan penantian yang tak menentu ini, sarannya masuk akal.
Jd keesokan paginya, kami ber-enam memberanikan diri pergi ke sarang macan, menghadap ke beliau. Dengan saling dorong sampai juga kami di depannya. Alhamdulillah, apa yang kami takutkan tidak terjadi. Tidak ada suara mengglegar atau kata-kata yang menusuk. Malah pada akhirnya, beliau memberikan kunci serepnya walaupun dengan sedikit ancaman.
Masalah yang berbulan-bulan tertahan pun selesai dengan happy ending.
Tanpa kami sadari, si pelapor yang awalnya kami anggap sebagai prmbawa bencana ternyata adalah penyelamat kami. Dialah yang membuka pintu penyelesaian masalah 'besar' tersebut. Sayangnya, kami tidak mengetahui siapa dia.
'Apa?'
'Matimi ja,'
'Dari mana mu tau?'
Berita itu menggegerkan penghuni kos. Bangkai yang selama ini tersimpan baik-baik tercium juga pada akhirnya.
'Ada bd yang melapor,' tambah si pembawa berita. Semua yang ada dikamar no 6 sontak berucap, 'siapa?'
Tp si pembawa berita hanya geleng kepala. Katanya ibu kos tidak mau memberi tahu.
Tersangka si pelapor, si pembawa malapetaka. Ya, pembawa bencana.
'Yah, siapkan saja mental kalian besok,' ucap kami pasrah. Rasa jengkel terhadap si pelapor menggumpal.
Ibu kos kami cukup killer. Sebenarmya maksud dan tujuannya baik, hanya saja suaranya yang menggelegar dan kata-katanya yang menusuk menjadi momok menakutkan bagi kami. Sekali marah, suaranya bisa kedengaran sepanjang lorong dan ceramahnya bisa berdurasi sampai2 jam.
Tapi keesokan harinya, menunggu dengan hati dag dig dug, beliau tidak kunjung nongol.
'Sepertinya ibu pengen kita pengakuan dosa langsung dihadapannya.' Hati kami serasa menciut mendengar saran tersebut tapi jika dibandingkan penantian yang tak menentu ini, sarannya masuk akal.
Jd keesokan paginya, kami ber-enam memberanikan diri pergi ke sarang macan, menghadap ke beliau. Dengan saling dorong sampai juga kami di depannya. Alhamdulillah, apa yang kami takutkan tidak terjadi. Tidak ada suara mengglegar atau kata-kata yang menusuk. Malah pada akhirnya, beliau memberikan kunci serepnya walaupun dengan sedikit ancaman.
Masalah yang berbulan-bulan tertahan pun selesai dengan happy ending.
Tanpa kami sadari, si pelapor yang awalnya kami anggap sebagai prmbawa bencana ternyata adalah penyelamat kami. Dialah yang membuka pintu penyelesaian masalah 'besar' tersebut. Sayangnya, kami tidak mengetahui siapa dia.
Labels:
Berbagi Pengalaman,
The life goes...
Subscribe to:
Posts (Atom)