23 March 2012
Episode ini di buka dengan keinginan kuat Takemoto untuk memenangkan hadiah ketiga dari sebuah undian. Hadiahnya adalah TV. Tapi kemudian, Morita datang dan menarik Takemoto. Dan lagi-lagi Takemoto dikerjain sama Morita dan Mayama. Dia dipaksa memakai baju zirah dan dipaksa menjadi patung di dalam studio lukis dimana Hagumi dan teman-temannya melukis seorang model yang ‘topless’. Saya tidak mau menjelaskan dengan detail. Yang jelas, pada akhirnya Takemoto ketahuan ^0^
Kemudian, Morita memperlihatkan pada Takemoto bahwa kali ini dia akan berhasil memasulkan kupon undian. Kemudian Hagumi datang membawa selebaran dengan foto Takemoto sebagai covernya. Ini akibat dia ketahuan saat penyamaran. Dengan kesal, Takemoto memutuskan untuk pulang lebih dulu dibanding yang lain. Tapi kemudian Pak Hakamoto meminta Takemoto untuk mengantar Hagumi ke yayasan.
Di jalan Takemoto kembali menatap selebaran undian yang tertempel. Masih mengharapkan hadiah TVnya hehe. Kemudian ayah Ayumi yang merupakan kepala di daerah perbelanjaan dimana undian tersebut diadakan. Ayah Ayumi menyuruh Takemoto untuk menyampai kepada Morita bahwa tahun ini dia tidak akan bisa memasulkan kupon undian seperti tahun lalu (padahal tahun lalu si Morita juga hanya mendapatkan tisu dari hasil pemalsuannya hehe).
Di tempat lain, Morita terlihat sibuk dengan visinya untuk memalsukan kupon undian. Ternyata dia ingin memenangkan hadiah pertama – sebuah mobil. Kemudian Ayumi datang. Dia melihat apa yang dilakukan Morita dan menasehatinya untuk menyerah saja karena kali ini dia tidak akan berhasil. Tapi Morita tidak peduli. Senyumnya saat berhasil membuat kupon palsu tapi Ayumi tersenyum meremehkan. Katanya, bagian belakang kupon yang asli ada cap yang mana dibuat sendiri oleh nya.
Morita langsung merebut kupon dengan cap itu dan kemudian membuat stempel dengan pola yang sama. Ayumi berusaha untuk mengehentikan Morita. tanpa sengaja, Morita menjatuhkan sesuatu dari meja Pak Hakamoto. Ternyata sebuah foto. Dan wanita yang ada di foto itu adalah wanita yang disukai oleh Mayama.
Mayama mendatangi rumah Rika yang juga merupakan tempat kerjanya. Rika minta tolong pada Mayama untuk membawa sesuatu ke kantor Fujiwara – kantor yang pernah mereka datangi saat Mayama membatalkan janji makan siangnya dengan Ayumi (episode 1). Rika juga meminta Mayama untuk langsung pulang setelah mengantar benda itu. Mayama mengerti apa maksud dibalik perkataan Rika. Dia berkeras untuk tetap kerja di tempat itu walau tidak digaji. Di beralasan bahwa dia bisa belajar banyak hal di tempat itu. Pada akhirnya Mayama bertanya, “Aku tidak bisa mengalahkan orang itu ya?”
Sementara itu di tempat lain Pak Hakamoto membeli sebotol anggur. Scene selanjutnya akan menjelaskan alasana Pak Hakamoto membeli anggur tersebut.
Kembali ke Takemoto. Takemoto ingin membelikan makanan yang enak untuk Hagu. Sayangnya, makanan itu tidak ada. Mereka juga pergi bermain game menembak ikan hiu. Saat itu Hagumia bertanya laut itu seperti apa. Itu karena dia belum pernah melihat laut. Takemoto terkejut (saya juga hehe) tapi dia mengatakan kalau laut Tokyo tidak begitu bagus.
Mereka lalu beranjak ke permainan yang lain (saya tidak tahu nama permainannya). Hagumi terkesan dengan sebuah batu berwarna orange. Jiwa laki-laki Takemoto pun muncul. Dengan rela dia menukarkan uangnya dengan koin permainan. Tapi sampai koin terkahir dia tidak berhasil mendapatkan benda yang diinginkan Hagumi. Takemoto hanya berhasil mengambil batu berwarna biru.
Sambil berjalan pulang, Hagumi berkata kalau permainan tersebut sepertinya sangat menyakitkan karena apa yang diinginkan ada di depan mata tapi sayangnya tidak dapat diraih (*angguk-angguk setuju)
“Tidak semua yang diinginkan bisa didapat,” kata Takemoto.
“Itu karena jumlahnya terbatas. Seperti kue di toko tadi,” kata Hagumi.
Mayama kembali ke Fujiwara untuk meyerahkan titipan Rika. Pegawai di kantor itu meminta tolong Mayam untuk menyerahkan sebuh dokumen kembali kepada Rika tapi Mayam menolak. Dia berkata kalau dia sudah tidak bekerja di sana lagi. Dia terkejut saat mengetahuinya. Tapi seorang pegawai pria di sana – Nomiya – menyindirnya. Dia berkata kalau Mayama pasti merasa sedih karena tidak akan bisa melihat Rika lagi. Mayam membantahnya. Dia bekerja di sana karena memang ingin belajar. Lalu pegawai wanita tadi mengusulkan agar Mayam bekerja pada mereka saja tapi Nomiya menolak. Baginya Mayama bukanlah orang yang bisa bekerja serius karena dia bekerja pada Rika hanya karena ingin dekat dengannya.
Morita berhasil membuat cap seperti yang ada di balik kupon undian. Di menstempel tangan AYumi, buku, kertas di dinding, dan dimana-mana. Takemoto dan Hagumi tiba. Takemoto bertanya mengapa Ayumi terlihat lesu. Tapi ayumi hanya menggeleng. Saat berbalik Hagumi terkejut melihat Morita memakan kue yang Hagumi berlikan untuk pamannya. Morita dengan santainya berkata, “di Tokyo, kalau kau lengah maka makananmu akan direbut dengan mudah.” ^_^
Pak Hakamoto berkunjung ke rumah Rika. Dia membawa anggur yang tadi diberinya. Ternyata besok adalah hari ulangtahun suami Rika yang sudah meninggal.
Ayumi menemui Hagumia yang sedang melukis dan bertanya apa Hagumi pernah berpikir untuk berhenti melukis. Menurutnya seseorang pasti juga merasa lelah untuk melakukan sesuatu merskipun itu adalah hal yang disukainya. Hagumi hanya tersenyum dan menjawab kalau dia tidak pernah berpikir seperti itu.
Takemoto membongkar barang kiriman ibunya untuk mencari sebuah batu yang dibutuhkan oleh Hagumi. *entah untuk apa. Tapi di subtitlenya dikatakan untuk membuat acar *angkat bahu. Kemudian Morita datang dengan kabar kalau Lohmeyer-senpai sudah kembali dari Hawai. Mayama, Morita, dan Takemoto terkejut karena dia selalu mendapatkan hadiah utama dalam sebuah undian. Morita pun meminta saran padanya bagaimana caranya agar dia juga biisa memenagkan hadiah utama. Lohmeyer-senpai hanya berkata bahwa pada memutar lotere, jangan pikirkan hadiahnya. Tapi itu akan sangat sulit jika yang kau inginkan ada tepat di hadapanmu. Lohmeyer-senpai mengatakan, jika seperti itu maka jari-jari tangan tidak akan lemas dan rileks saat memutar lotere.
Morita hadir di tempat pengundian. Dia bosan karena pemeriksaan kupon undiannya makan waktu. Sayangnya, kupon undian palsunya ketahuan sama ayah Ayumi. Ayah Ayumi berhasil menebak kalau Morita memalsukan kupon undian miliki Ayumi. Hanya saja, kupon Ayumi sendiri sudah palsu haha....kena deh si Morita.
Takemoto melihat Hagumi sendirian. Dia tersenyum penuh kemenangan. Dia lalu mengeluarkan batu kiriman ibunya dari dalam tas. Sayangnya, Pak Hakamoto datang lebih dulu juga sambil membawa sebuah batu untuk diberikan kepada Hagumi. Takemoto meminta maaf pada ibunya karena sudah repot-repot mengirimkan batu itu namun pada akhirnya tidak berguna sama sekali, malah mem’berat’kan. *backsoundnya harusnya seduh tapi karena permintaan maaf takemoto pada ibunya, saya malah ketawa :D
Ayumi bertanya pada Takomoto apa Mayama pergi bekerja. Takemoto berkata kalau dia sedang mencari pekerjaan. “Dia dipecat,” kata Pak Hakamoto. Ayumi terkejut. Dia lalu bertanya pada Pak Hakamoto orang seperti apa Rika itu.
“Dulu dia selalu tersenyum. dia sama gilanya seperti Ayumi dan kawan-kawan. Setelah lulus, dia menikah dengan pria yang ada di foto (yang sebelumnya ditemukan Ayumi). Namanya Harada.”
“Menikah?” Ayumi terkejut.
“Tapi dia sudah tidak ada. Dan hari ini adalah hari ulang tahunnya.”
Rika mengunjungi makam suaminya
Ayumi menemui Mayam yang berbaring di bangku taman. “Berhentilah mengejarnya (Rika). Kau tidak mungkin bisa mengalahkan orang sudah tidak ada di dunia ini.”
“Aku tahu. Tapi aku tidak berdaya. Jadi kau tidak per pedulikan aku.” Mayama melangkah pergi. Dari jauh Takemoto melihat mereka berdua – sambil menggendong batunya hehe. “Walau tepat di haadapanmu, ada hal yang tidak bisa kau miliki. Betapa pun kau mengulurkan tanganmu, ada hal yang tidak bisa kau sentuh. Namun begitu, jika terus berusaha, akankah ada akhirnya? Seperti yang Hagumi katakan, meskipun harapanmu tidak menjadi kenyataan, ada sedikit kebahagiaan yang menunggu di suatu tempat.”
Takemoto kemudian bertemu dengan orang yang sering membeli lukisan Morita. Darinya Takemoto mendapatkan banyak kupon gratis. Takemoto memanggilnya ‘Malaikat’. Tapi kemudian Morita muncul dan merebut kupon itu. Takemoto memanggilnya, ‘Yang ini Iblis,’ hehe...
Ayumi menangis di tempat dia biasa membuat tembikar. Morita (lagi-lagi) datang dan menyuruh Ayumi untuk datang di pengundian lotere ayahnya. Ayumi harus melihat dirinya menghancurkan ayah Ayumi (Permintaan yang kejam ^^). Tapi Ayumi menolak dengan alasan dia tidak sanggup lagi bertemu dengan MAyama. Tapi Morita berkata, “Kau tidak perlu memandang wajahnya. Lihat saja punggunku yang kokoh ini. Karena selama kau hidup, bergaul dengan orang lain adalah tugasmu.”
Dan tibalah saat pengundian. Saat mereka tiba ternyata Lohmeyer-senpai sudah berhasil mendapatkan hadiah utama – sebuah mobil. Benar-benar orang ang beruntung, tidak dapat dipercaya. Tapi si Takemoto tetap saja memandangi hadian TV. Kemudian dia memberi saran ke yang lain agar setiap orang mendapatkan kesempatan untuk memutar undian (hehe saking nengebtnya pengen dapat TV). Tapi semuanya menolak karena ternyata Mortia sudah memutar empat undian dan semuanya KALAH hah! Hampir saja Morita dan ayah Ayumi berkelahi karena saling ejek (seperti anak kecil hehe). Tapi siapa sangka, di saat mereka mereka merelai perkelahian dan Takemoto protes karena tidak mendapat kesempatana, Hagumi dengan santainya memutar undian :D
“Di Tokyo, kalau kalian lengah seperti itu maka akan ada yang memutar lotere,” kena deh
Dan..berhasil. Hagumi berhasil mengeluarkan bola emas. Semuanya terkejut sekaligus senang karena warna emas berarti hadiah utama. Tapi ternyata mereka hanya mendapatkan hadiah ke-5, yaitu peralatan renang haha... semua pada protes.
Ayah Ayumi lalu membela diri sambil memperlihatkan kalau semua peralatan renangnya berwarna emas. Mayama lalu bertanya warna bola untuk hadiah utama. Dengan santai ayah Ayumi menjawab Biru karena mobilnya berwarna biru (ngeles hehe). Morita kembali protes. Tapi kemudian Takemoto member saran agar mereka pergi ke laut bersama-sama saja (mungkin dia teringat dengan percakapannya dengan Hagumi saat Hagumi bercerita bahwa dia belum pernah ke laut).
Mereka lalu meminjam mobil Lohmeyer-senpai. Mayama protes karena tidak boleh melepas rumbai-rumbai yang mengelilingi mobil itu tapi Morita malah senang karena kalau tidak ada hiasan tersebbut maka mobil itu jadi tidak istimewa. Hagumi memberikan kantongan kepada Takemoto untuk disimpan di dalam mobil. Saat mengambilnya, Takemoto melihat sebuh cincin di jari Hagumi yang hiasannya adalah batu biru yang dia menangkan dari permainan hari kemarin. Takemoto tersentuh
Morita kemudian menyuruh Takemoto untuk duduk di depan, di samping Mayam yang mengemudi karena dia ingin duduk di belakang di antara para gadis. Tapi Ayumi menolak. Langsung saja Morita menarik tangannya dan mendorong Ayumi masuk dan duduk di kursi depan. Sambil menutup pintu dia mengedipkan matanya.
Di perjalanan Morita tertidur dan Ayumi melihat cincin di tangan Hagumi. Menurutnya cincin itu cantik. Dia pun bertanya darimana Hagumi mendapatkannya. Takemoto yang tidak mau ketahuan pun mengalihkan pembicaraan. Tapi Ayumi tetap bertanya. Takemoto kembali menjawab. Ayumi marah karena Takemoto ikut campur. Takemoto kembali beralasan bahwa dia adalah juru bicara dari orang yang duduk di belakang. Ayumi tidak peduli dan kembali bertanya.
Tapi kemudian Takemoto diselamatkan karena mereka akhirnya tiba.
Mereka bersenang-senang. Tapi pandangan Takemoto tidak pernah lepas dari Hagumi dan cincin di jarinya. Ayumi juga minum sangat banyak sampai tertidur karena mabuk. Saat beres-beres, Takemoto melihat Hagumi mencari sesuatu. Saat bertanya Hagumi berkata kalau cincinnya hilang. Takemoto jadi sangat panic (karena alasan tertentu pastinya hehe) dan meminta Morita untuk membantunya mencari cincin itu.
Mayama membangunkan Ayumi karena mereka harus pulang. Tapi karena mengantuk sehabis minum Ayumi enggan pindah dari tempatnya. Mayama lalu menyuruh Ayumi untuk naik ke punggunggnya. Awalnya Ayumi menolak tapi kemudian Mayama memaksanya. Saat digendong, Ayumi bertanya kalau dia itu berat dan Mayama menjawab lebih dari perkiraannya. Ayumi lalu memukul Mayama dan berkata kalau Mayama itu bodoh. Mayama tersenyum mendengarnya. Kembali berkata Mayama bodoh, dan Mayama hanya meng’iya’kan. Beberapa kali Ayumi berkata seperti itu namun pada akhirnya dia menangis dan mengungkapkan perasaannya pada Mayama. Berulang kali dan Mayama hanya mengangguk. Terakhir Mayama mengucapkan terima kasih.
Sementara itu Takemoto dan Hagumi masih sibuk mencari cincin Hagumi yang hilang. Kemudian Morita memanggil Hagumi dari tepi pantai dan Takemoto tidak menyadarinya. Morita lalu memasangkan potongan mulut botol ke jari Hagumi, mengisi pecahan botol biru dengan air laut dan kemudian mengarahkannya kea rah cahaya bulan. Bias cahaya dari air dan warna biru dari botol itu di pantulkan di mulut botol yang ada di jari Hagumi seolah-olah menjadi batu cincin. Hagumi menyukainya dan terpana selama beberapa saat.
Tiba-tiba Morita mencium Hagumi dan Takemoto yang sangat senang karena telah menemukan cincin Hagumi melihatnya. Tangannya yang terangkat tinggi untuk memperlihatkan cincin yang didpatnya langsung jatuh lemas. Lagu OSTnya langsung terdengar. Cocok banget dengan scenenya.
Sementara itu Hagumi yang juga terkejut langsung terduduk di atas pasir. Dengan santainya Morita berkata, “Kalau di Tokyo kau lengan seperti itu maka kau akan dicium.” Aaaaargh jengkel dengan Morita di scene ini >.< Hatchimitsu to Clover ep 1
Labels:
Hatchimitsu to Clover,
J-dorama,
sinopsis
07 March 2012
SNSD and Dangerous Boys
Reality show terbaru dari SNSD. Sebenarnya sudah dimulai sejak akhir tahun lalu. Beritanya juga sudah banyak tersebar. Makanya, begitu kemarin dapat kesempatan buat download videonya, langsung dah. Ternyata acaranya bagus, keren, lucu, dan menyentuh.
Di acara ini, SNSD menjadi mentor buat lima remaja ‘nakal’. Yang pertama adalah Hwang Yong-hyun. Dia ini paling suka ngeles. Yang jadi mentornya adalah Hyo-yeon dan Yoon-a. Sesuai banget sama karena Hyo bisa mengimbangi negelesenya si Yong-hyun. Yonghyun juga adalah ‘hyung’ karena sudah berumur 19 tahun namun masih duduk di kelas 2. Ini karena dia pernah ketinggalan kelas (ep 1)
Yang kedua adalah Gungkyu. Anaknya paling cepat marah, suka memukul, dan mengumpat. Orang tuanya bercerai sejak dia masih kecil. Masalah terbesarnya adalah tidak memiliki keluarga yang bahagia. Saat ini dia hanya tinggal dengan neneknya dan bahkan tidak tahu bagaimana wajah ayahnya. Pada sesi terapi (ep 4) terlihat kalau dia sangat rindu skelaigus benci pada ayahnya sendiri. Tiffany dan SooYoung adalah mentornya. Mereka bertiga sama-sama cerewt hehe...
Yang ketiga Kim Seong-Hwan. Dia pintar nge-rap dan paling tinggi di antara yang lain. Sunny yang jadi mentornya. Awalnya saya merasa kasihan sama Sunny karena bertugas sendiri. Tapi setelah menonton saya jadi paham kalau ternyata Seonghwan ini tidak terlalu nakal. Dia lah yang paling hebat dalam menaati peraturan. Dia lah yang paling alim diantara yang lain. Masalahnya hanyalah kurang percaya diri karena sering diejek sama teman-temannya (ep 4 dan juga dia benci sekolah. Dia suka musik tapi orang tuanya tidak begitu setuju.
Yang keempat adalah Kim HuiHoon. Dia yang paling muda, suka mengumpat, merokok, minum, dan komunikasi dengan orang tua juga tidak bagus. Taeyeon dan SeoHyun adalah mentornya. Taeyeon adalah 'omma' sedangkan Seo adalah 'appa'. Itu karena Seo agak ‘keras’ sebagai mentor. Yah wajarlah, Seo adalah anak satu-satunya dan paling ‘pure’ diantara member yang lain (Sok tau hehe). Di episode 1, saya menganggap kalau HuiHoon serupa dengan YongHyun, mungkin akan agak sulit berubah. Tapi ternyata, ketika mereka mendapat terapi hipnotis, HuiHoon adalah satu-satunya DB yang menangis (Saya juga ikut nangis waktu nonton). Kata psikolognya, dia adalah DB yang paling berniat untuk berubah. Anaknya juga ternyata lucu dan agak manja kepada ‘Hyung’-nya. Itu terlihat kalau dia tidak pernah tidur sendiri selama acara ini hehe....
Yang kelima adalah Gu JiSoo. Suaranya beraaaaaat banget, tapi keren hehe. Dia paling tidak bisa menepati janji, telat bangun untuk ke sekolah, tidur di kelas, merokok (tapi pengakuannya dia sudah berhenti di ep1), minum, dan menjawab pertanyaan paling singkat. 'Keureso' (tidak tahu tulisannya benar atau tidak) adalah kalimat andalan Ji Soo. Yuri dan Jessica adalah mentornya. Pertemuan pertama mereka lucu deh ^o^
[Bersambung]
Labels:
Dangerous Boys,
sinopsis,
SNSD
01 March 2012
Pasti sudah banyak yang baca manga dari dorama ini. Tapi tak apalah. Sia-sia rasanya saya hapus dari lappi kalau tidak buat sinopsisnya. Soalnya sewaktu nyari sinopsisnya di google, kebanyakan hanya bahas manganya.
Episode 1
Dimulai dengan Takemoto Yuta yang memasuki tahun ketiganya di Universitas seni Hamadayama pada awal musim semi. Sambil berjalan diantara gugurnya bunga sakura (cantik banget loh..), Takemoto merasa bahwa dirinya tidak seperti mahasiswa yang lain. Dia merasa bahwa tak ada yang berubah pada dirinya, tak ada sesuatu yang ingin dia raih walaupun ini sudah tahun ketiganya.
Tapi kemudian, saat dia berdiri di tepi kolam dan menikmati gugurnya bunga sakura, dia melihat seorang perempuan (Hanamoto Hagumi) sedang duduk di pinggir kolam yang sama.
Hagumi yang menyadari kehadiran Takemoto berdiri dan tersenyum kepadanya. Langsung terpanah deh...
Belum sempat berkata apa-apa, datang dua pria (Morita Shinobu dan Mayama Takumi) dengan gerobaknya. Dengan paksa Morita menarik kerah baju Takemoto sehingga membuat salah satu kancing bajunya lepas.
Sambil berlari (Kasihan Mayama harus menarik gerobak), Takemoto protes. Morita dan Mayam menjelaskan kalau mereka akan pergi makan makanan enak. Tapi Takemoto menolak. Dia menyuruh mereka berdua saja yang pergi. Tapi Morita berkata kalau mereka tidak bisa makan jika tanpa dirinya. “Aku tidak punya uang untuk membayar,” kata Takemoto (Sepertinya kedua temannya ini memang jahil ^^). Tapi Mayama berkata kalau dia dan Morita bukan orang seperti itu.
Takemoto juga protes karean dia ada kelas. Dia akan dapat masalah jika tidak masuk. Tapi Morita membantah dan berkata, “Jika tidak makan sekarang, jiwa kita akan bermasalah besok.”
Ternyata mereka mengajak Takemoto untuk makan Kare terenak di kampus. Sayangnya harus antri dan Kare itu hanya diperuntukkan bagi mahasiswa baru (Note: Morita, mahasiswa tahun ke- 7; Mayam, mahasiswa arsitektur tahun ke- 4; dan Takemoto, mahasiswa arsitektur tahun ke- 3). Wajah Takemoto yang seperti maba inilah yang mereka butuhkan agar dapat makanan gratis. Sayangnya jika ketahuan menyelinap, maka akan seperti ini nasibnya ^^
Awalnya dia lolos dari pengamatan si penjaga stand yang menakutkan. Tapi kemudian....(kalian taulah akhirnya heheh)
Untungnya mereka berhasil menemukan dapur dari stand tersebut. Di sini terjadi kelucuan yang lain. Mereka sibuk mencari piring dan akhirnya menemukan sebuah piring raksasa. Sayangnya piring itu adalah hasil karya Yamada Yumi (mahasiswa seni tembikar tahun ke-4) yang jago bela diri. Dan belum sempat mereka mencicipi kare tersebut, Yamada datang.
Yamada mengeluarkan tendangannya. Dan - lagi-lagi - Takemoto yang jadi korbannya ketika dua temannya yang lain berhasil menghindar.
Sementara itu, gerobak yang mereka bertiga gunakan sebelumnya membuat masalah. Gerobak itu menabrak sepeda seorang dosen (Hanamoto Sensei) hingga berkeping-keping saat dosen itu sedang berdiri menikmati keindahan bunga sakura ^o^
Lewat pengeras suara, Pak Hanamoto memanggil Takemoto untuk mempertanggungjawabkan perbuatan gerobaknya.
Saat mereka berlima berkumpul di ruangan Pak Hanamoto untuk mengadili Takemoto, terdengar suara benda berjatuhan. Pak Hanamoto segera berlari ke sumber suara. Ternyata ada orang yang terjatuhnya (Jatuhnya persis seperti di komik2). Ternyata gadis yang jatuh itu adalah gadis yang dijumpai Takemoto dipinggir kolam.
Hagumi adalah kemenakan dari Pak Hanamoto (Ketahuan dari nama keluarganya) yang merupakan mahasiswa baru di universitas tersebut. Dia berasal dari Nagano dan baru pertama kali datang ke Tokyo (karena itu stylenya agak ‘kumuh’). Anaknya pemalu dan hobinya adalah melukis. Pada pertemuan ini, Hagumi mengembalikan kancing baju Takemoto yang sempat terlepas tapi tidak disadarinya (sampai saat ini, Takemoto belum pernah mendengar suara Hagumi).
Sudah jelas kan kisah percintaan yang pertama. Kisah percintaan yang lain datang dari Ayumi. Ternyata dia diam-diam menyukai Mayama. Hal itu terlihat saat dia berusaha keras dengan menjelajah di toko-toko buku untuk menemukan buku tua yang sangat diperlukan Mayama dalam menyelesaikan tugasnya.
Pak Hanamoto mengajak Hagumi melihat-lihat kampus. Lalu mereka masuk ke studio seni kayu. Di sana Hagumi melihat sebuah karya seni yang membuatnya kagum. Karya buatan tangan Morita. Walau jahil dan menjadi mahasiswa 'abadi', tapi Morita adalah seniman yang hebat. Menurut Pak Hanamoto, karya Morita bisa menggerakkan hati orang yang melihatnya. Dan setelah meliat karya seni itu, Hagumi langsung berlari mengambil alat lukisnya dan mulai melukis.
Morita, Mayama, dan Takemoto adalah teman kos yang sama-sama kelaparan. Pemilik kosan yang bernama Lohmeyer-senpai datang dan memberikan mereka makanan. Lohmeyer-senpai ini orang yang selalu beruntung dan juga puitis hehe..
Di kampus, Ayumi memamerkan keberhasilannya pada Mayama dalam menemukan buku yang dia butuhkan. Mayama terlihat senang. Tapi Morita dengan jahil berkata harusnya Mayama memberikan Ayumi pelukan sebagai ucapan terima kasih. Karenanya, Ayumi kembali melayangkan tendangannya dan - lagi-lagi - si Takemoto yang jadi korbannya.
Ayumi minta ditraktir makanan Italia sabagai imbalannya dan Mayama setuju. Tapi saat itu, tiba-tiba Mayama menerima telepon dari seorang wanita yang membutuhkan bantuannya. Tanpa pikir panjang Mayama mengiyakan padahal saat itu adalah wawancara seminar yang sangat penting. Selain itu, dia juga membatalkan janjinya pada Ayumi dan langsung berlari menembus hujan (kekuatan cinta ^o^).
Setiap tahun ada pameran di universitas Hamadayama dan Morita adalah langganan juara. Tapi tahun ini, Hagumi lah pemenangnnya. Saat mengetahui hal itu, Morita langsung berlari ke studio lukis Hagumi. Takemoto yang cemas ikut mengejar di belakangnya. Tapi begitu mereka tiba di studio lukis, Morita malah langsung memeluk Hagumi. Takemoto hanya bisa melihat.
Morita memuji lukisan Hagumi. Hagumi pun berkata untuk pertama kalinya kalau dia juga menyukai karya Morita. Takemoto berkata pada dirinya sendiri bahwa memang dia sangat ingin mendengar suara Hagumi. Tapi entah mengapa, dia malah merasa jika ada sesuatu yang membebani hatinya. Dan walau terlihat dekat, namu dia merasa jarak mereka terlalu jauh.
Di tempat lain pun Ayumi membuat keramik sambil menangis. Tapi kemudian Morita datang menghiburnya.
Sedangkan Mayam mengantar Harada Rika (wanita yang meneleponnya), sepayung berdua (Jadi iri sama pengorbanan Mayama). Rekan kerjanya yang melihat hal itu hanya tersenyum. Karena ternyata di hati Rika juga sudah ada orang lain yang tidak bisa dia lupakan *sigh...
Takemoto berjalan sambil teringat saat Morita memeluk Hagumi. Dia kemudian melihat Hagumi melukis di pinggir kolam tempat pertama kali mereka bertemu. Dia pun memberanikan diri untuk berbicara dengan Hagumi. Dia memuji lukisan Hagumi dan berkata kalau dia iri padanya karena tidak bisa melukis seindah Hagumi. Hagumi berkata kalau sejak dulu yang dia lakukan hanya melukis. Dan dia merasa benar-benar hidup saat dirinya melukis (waaaahhh..)
Sementara itu, Ayumi membakar tembikarnya sambil ditemani Morita yang juga membakar pizza. Yang lain pun datang satu per satu sambil membawa pesanan dari Morita. Mayama tiba lebih dulu lalu disusul Takemoto bersama Hagumi. Morita membuat pizza karena Mayama tidak jadi mentraktir Ayumi makanan Italia.
Dan mulailah Hagumi bergabung bersama 'perkumpulan' Takemoto, Morita, Mayama, dan Ayumi.
Note:
Episode pertama masih bercerita seputar perkenalan dari karakter yang ada di dorama ini dan juga hubungan antara mereka. Untuk episode awal, Morita adalah karakter yang misterius. Tentang alasan mengapa dia bertahan selama tujuh tahun di kampus padahal hasil karyanya bernilai tinggi. Selain itu, perhatian yang ida berikan pada Ayumi juga masih tanda Tanya. Adakah itu perhatian murni seorang sahabat ataukah perhatian dari perasaan yang tersembunyi. Namun yang jelas, cinta bertepuk sebelah tangan Takemoto sudah mulai terlihat sejak episode ini.
Labels:
Hatchimitsu to Clover,
J-dorama,
sinopsis
Subscribe to:
Posts (Atom)




























































