06 November 2015

[Sinopsis]. The Beauty Inside: part 3



Yi soo yang akhirnya yakin dan menerima penyakit Woo jin memutuskan untuk melanjutkan hubungannya dengan Woo jin.



Yi soo mengakui bahwa walaupun dia setiap hari bertemu dengan Woo jin, tapi tetap ada perasaan asing begitu dia melihatnya. Woo jin hanya bisa meminta maaf untuk itu. “Tapi dengan wajah seperti apa kau paling tidak bahagia?”

Tadaaaa… A boy hahah


“Yi soo-ah,” ucap Woo jin saat membuka pintu. Yi soo tak bisa berkata-kata saat melihatnya. “Apa kau boleh menggunakan banmal saat bicara denganku?” (banmal-bahasa korea yang tidak formal).



Mereka lalu pergi makan bersama. Woo jin terus menggunakan banmal saat berbicara dengan Yi soo. Yi soo menegurnya. Begitu pula dengan pelayan yang mendengarnya. Anak kecil harus menggunakan jondetmal saat bicara dengan orang yang lebih tua dengannya. Woo jin menunduk sementara Yi soo tersenyum menang.

Yi soo memasukkan soju yang dia minum ke dalam botol susu milik Woo jin secara sembunyi-sembunyi agar mereka bisa bersulang. Hasilnya, Woo jin teler dan tertidur. Yi soo pun harus menggendongnya pulang.

Kebersamaannya dengan Yi soo membuat Woo jin sangat bahagia. Dia tidak percaya sesuatu yang dulunya mustahil kini menjadi kenyataan. Kini dia tidak lagi seorang diri di dunia ini.


***




Yi soo menutup matanya. Woo jin yang berada di sampingnya bertanya mengapa Yi soo menutup matanya. Yi soo menjawab bahwa dia hanya ingin mencoba berpikir bagaimana seandainya saja dia tidak perlu melihat, hanya merasakan kehadiran Woo jin, aroma dan perasaannya (karena wajah Woo jin yang selalu berubah setiap hari, red).




Woo jin tersenyum mendengarnya. Dia pun menggenggam tangan Yi soo. Dia menyelipkan jarinya di antara jari Yi soo. Yi soo membuka matanya dan menatapnya. “Aku akan menggenggam tanganmu seperti ini,” ucap Woo jin. “Aku akan selalu bisa mengenalimu.” Keduanya tersenyum.

***


Suatu hari Woo jin mengajak Yi soo ke kantor Sang baek. Sang baek terkejut melihatnya datang bersama orang lain, seorang wanita.


Di sana, Woo jin dan Sang baek membicarakan sebuah desain untuk Woo jin kerjakan. Yi soo memberikan masukan agar mereka melakukan sebuah inovasi baru agar nama ALX semakin dikenal orang. Sang baek dan Woo jin suka dengan ide itu.

Sang baek lalu menyinggung tentang pesta yang akan diadakan oleh studio tempat Yi soo bekerja. Sebuah pesta yang juga mengundang ALX untuk berterima kasih. Woo jin terlihat enggan menghadiri pesta itu dengan mengatakan kalau sayangnya mereka sedang sibuk saat ini. Tapi dia juga penasaran dan akhirnya bertanya kapan pesta itu diadakan.

***


Hari pesta tiba dan semua undangan datang berpasangan. Yi soo minum seorang diri ditemani hpnya. Dimana Woo jin saat itu?


Dia masih seorang halmeoni x_x


'Sungguh tidak sesuai harapan. Benar, menjadi nenek Yi soo juga tidak ada salahnya.'

“Ah, tidak masuk akal!”

Woo jin sibuk berdebat dengan dirinya sendiri dan terus memohon jalan keluar. Agar dia menjadi seorang pria.


Senior Yi soo mendekatinya dan bertanya tentang pasangan Yi soo. Dia penasaran siapa sebenarnya kekasih Yi soo karena dia selalu melihat Yi soo pulang dari studio dengan pria yang berbeda-beda. Makanya dia jadi penasaran, siapa pria terlama yang menjadi kekasih Yi soo. Yi soo membalas bahwa seonbae-nya itu akan terkejut jika melihat kekasihnya. Tapi seonbae-nya tidak percaya. Dia menyuruh Yi soo untuk mencari kenalan baru saja di pesta itu.




Tapi sebuah tangan menggenggam tangan Yi soo. Yi soo terkejut dan berbalik. Dia melihat seorang pria tersenyum kepadanya. (Lee Jin wook!) Dia tahu kalau pria itu adalah Woo jin. Dia pun tersenyum sementara seonbae-nya hanya bisa tertawa, tak bisa menyembunyikan keterkejutan dan kekagumannya melihat Woo jin.

Wow! Itu saja yang bisa dia ucapkan. Dia pun meninggalkan mereka berdua.


Woo jin menceritakan kepada Yi soo bahwa 2 jam yang lalu dia adalah seorang halmeoni dan harus memaksakan dirinya tidur agar bisa berganti rupa.

Sangbaek mengajak mereka minum di tempat lain. Tapi kemudian mereka meninggalkannya ketika Sang baek mulai mabuk dan membiarkannya bersama wanita lain.


Dan malam itu, mulailah Yi soo ikut dalam video yang Woo jin rekam di laptopnya.

“Sampai di sini dulu hari ini.”


***




Suatu hari kakak Yi soo membuka foto di hp Yi soo. Dia terkejut melihat banyak foto Yi soo bersama pria, tapi semuanya pria yang berbeda.

Begitu Yi soo keluar dari kamar mandi, dia langsung merebut hpnya dari tangan kakaknya. Kakaknya bertanya tapi Yi soo tidak menggubrisnya. Tapi begitu dia seorang diri, Yi soo mengamati foto yang ada di hp nya.

***


Woo jin mengajak Yi soo bertemu ibunya. Ibunya mengajari Yi soo cara merajut.


Saat hanya mereka berdua (Woo jin melayani pelanggan yang datang ke toko, red), ibu Woo jin menanyakan keadaan Yi soo. Dia bisa memahami kalau pasti tidak mudah bagi Yi soo menjalani hubungan dengan Woo jin. Tapi dia tidak bisa membantu apa-apa. Yang bisa dia lakukan hanya mendoakan agar hubungan mereka lancer. Yi soo terdiam lalu tersenyum.

***


Yi soo sedang makan bersama teman kerja dan seonbae-nya. Mereka menanyakan kabar hubungan Yi soo dengan pria yang datang ke pesta malam itu. Mereka semua penasaran karena setahu mereka, pria malam itu tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Saat Woo jin menelepon Yi soo, mereka pun kompak menyuruh Yi soo agar meminta kekasih tampannya itu untuk datang saat itu juga. Yi soo tak bisa menjawab selain ‘tidak bisa malam ini, lain kali saja’ lalu meninggalkan meja untuk menjawab telepon.


***


Yi soo sedang berada di keramaian. Dia menelepon Woo jin dan menanyakan keberadaannya. Woo jin ingin bermain-main dengannya. Jadi dia menyuruh Yi soo untuk mencarinya karena dia sudah berada dekat dengn Yi soo. Yi soo menoleh mencari-cari tapi dia tidak tahu. Dia pun meminta Woo jin untuk berhenti bercanda.



Tiba-tiba seseorang datang menggenggam tangannya tapi cara menggenggamnya berbeda dengan cara Woo jin menggenggam tangannya. Yi soo berbalik dan terkejut melihat seorang pria tersenyum kepadanya. Refleks dia menghempaskan tangan pria itu.


“Maaf, aku hanya bercanda,” ucap Woo jin merasa bersalah. Yi soo marah dan beralik meninggalkan Woo jin yang hanya bisa berdiri membeku.

Woo jin terus menghubungi Yi soo dan juga mengirimkan sms meminta maaf. Yi soo akhirnya luluh. Dia pun datang ke rumah Woo jin.


Di depan pintu dia dengan gaya ngambeknya berkata bahwa yang ingin dia lihat besok pagi pertama kali adalah Kim Woo jin.

“Jadi kau ingin menginap di sini mala mini?”

“Terserah,” Yi soo masih ngambek. Woo jin tersenyum lalu memeluknya.


“Jangan begitu lagi,” ucap Yi soo kepada Woo jin sebelum dia tidur. Woo jin mengangguk.

Esok harinya Yi soo terbangun lebih dulu. Dia menoleh untuk menatap Woo jin. Tapi dia terdiam, seperti melihat sesuatu.


***


Sangabaek datang ke rumah Woo jin membawakan makanan kirima ibu Woo jin. Tapi saat membuka kulkas, dia terkejut melihat isinya. tak seperti biasa. Sekarang kulkas itu penuh makanan dan tertata rapih. Itu semua karena Yi soo.

Sangbaek pun bertanya kenapa mereka berdua tidak tinggal bersama saa. Mendengar itu, Woo jin seperti mendapat dukungan. Memang sudah sejak awal dia berniat melakukannya.

Menikah... Aku ingin menikah. Benar, aku tak kan ragu-ragu lagi.


Maka mulailah Woo jin memulai proyek barunya. Membuat sebuah cincin pertunangan.

Selama berhari-hari dia mengerjakannya. Dan kini Aku siap mengakhirinya.


***


Yi soo sedang melayani seorang customer tapi tiba-tiba dia hilang fokus. Untung saja seorang pegawai datang membantunya dan mengambil alih tugasnya.

Yi soo kemudian beristirahat dan meminum obat. Melihat Yi soo lagi-lagi minum obat, Seonbae-nya menghampiri Yi soo dan mengajaknya ke ruangannya.


Di ruangannya, si Seonbae bertanya apa Yi soo karena kekasihnya? Yi soo menoleh dan menatap meminta penjelasan. Hati-hati dia menjelaskan bahwa akhir-akhir ini ada gossip yang beredar tentang Yi soo yang selalu pulang dengan pria yang berbeda. Dia hanya ingin Yi soo bercerita jikalau dia punya masalah dan mungkin saja dia bisa membantu Yi soo. Tapi Yi soo hanya tersenyum dan berkata kalau dia baik-baik saja.

***


Yi soo menemui seorang psikiater. Dia mencoba menceritakan masalahnya yaitu kekasihnya yang awajahnya selalu berubah-ubah menjadi orang lain setiap pagi.

Konsultasinya itu pun dia rekam.

"Setiap hari dia mendatangiku,meraih tanganku. Aku tahu itu dia. Tetapi ketika aku berbalik dan melihatnya, aku tak mengenalinya. Dia tersenyum kepadaku, jadi akupun tersenyum kepadanya.

Aku sangat ingin mengenalnya lebih dekat, tapi hari terlalu pendek.

Ketika orang itu menyentuhku, aku terus bertanya, betulkah itu dia? Aku juga tidak yakin. Jika aku menutup mata dan memeluknya, aku merasa nyaman. Tapi itu membuatku seperti perlahan-lahan menjadi orang aneh. "

“Kau ingin mengakhirinya?”

Yi soo menggeleng.

***


Yi soo berada di rumah Woo jin. Woo jin menggenggam tangan Yi soo.

Yi soo berkata bahwa dia sangat ingin mereka terus seperti saat itu. Woo jin perlahan berkata, “Yi soo, bagaimana kalau kita menikah?” Yi soo tidak menjawab tapi perlahan menarik tangannya dari genggaman Woo jin.

Woo jin terlhat kecewa tapi dia mencoba mengalihkan topik dan berkata kalau dia hanya bercanda lalu menawarkan wine lagi kepada Yi soo.


Dalam perjalanan mengantar Yi soo, Yi soo bertanya apa Woo jin marah? Woo jin menjawab tidak. Merasakan suasana yang sedang tidak baik, Yi soo meminta Woo jin menepikan mobilnya.

Yi soo mencoba menjelaskan bahwa pernikahan bukanlah hal yang mudah. Mereka harus memikirkan bagaimana cara memperkenalkan calon mereka kepada keluarga mereka. Tentu saja Yi soo benar. Akan sulit memperkenalkan seseorang kepada keluarga jika keesokan harinya orang tersebut akan menjadi orang yang berbeda.

Woo jin menjawab bahwa semenjak mereka bersama, setiap hari setiap bangun pagi, yang dia pikirkan adalah bagaimana agar mereka bisa hidup bersama.


Tapi Yi soo membalas ucapan Woo jin itu dengan mengatakan bahwa Woo jin egois, hanya memikirkan dirinya sendiri. Woo jin seharusnya sadar bahwa Woo jin sendiri yang mengidap penyakit itu selama bertahun-tahun, masih harus menyesuaikan dirinya setiap pagi begitu dia bercermin. Lalu bagaimana dengan dirinya yang baru mengenal Woo jin sebentar? Dia meminta agar Woo jin mengerti posisinya. Bagaimana dia akan memperkenalkan Woo jin kepada teman-temannya? Kepada keluarganya? Kepada orang lain?

“Ini benar-benar sulit buatku,” ucap Yi soo. “Bisa kau berikan aku waktu?”

“Tidak apa-apa. Kau tidak perlu memikirkannya lagi,” jawab Woo jin, tanpa mau menatap Yi soo. Dia sadar kalau semua ucapan Yi soo benar. Dan itu semakin membuatnya marah. Marah kepada dirinya sendiri.

Kalau begitu katakan apa yang kau mau. Tak ada yang bisa bertahan jika salah satu hati terus tersiksa.

Yi soo teringat kata psikolog yang dia temui.


“Aku pusing,” ucap Yi soo. Woo jin menoleh, khawatir. Dia lalu mengeluarkan obat dari tasnya. Tapi tak lama dia tidak sadarkan diri.

***


Di RS Woo jin akhirnya tahu bahwa selama ini Yi soo mengkonsumsi obat dan dia tidak tahu itu sejak kapan. Dia juga mendengarkan isi rekaman konsultasi Yi soo. Dia sadar kalau selama ini dia memang hanya memikirkan dirinya sendiri karena mengharapkan sesuatu yang harusnya hanya sebuah mimpi.

***


Woo jin datang menemui ibunya dan bertanya tentang dirinya. Saat itulah dia tahu kalau dia mendapatkan penyakit seperti itu dari ayahnya. Awalnya hanya suaranya tapi kemudian suatu hari ayahnya pergi sebentar dan kemudian ibunya tak bisa lagi mengenalinya. Sejak itu kehidupan jadi sulit, terlebih dia mengandung. Sampai akhirnya, ayahnya pergi dan hanya meninggalkan sebuah surat dan sedikit uang. Dia tak pernah kembali lagi.

Ibunya meminta Woo jin untuk tidak menyalahkan ayahnya. Dia tahu kalau ayah Woo jin pergi karena dirinya. Jadi dia mengerti perasaan Yi soo yang pasti sangat terbebani dan juga penuh ketakutan.

“Kalau ayah menghilang, apa aku juga tidak boleh melakukan hal yang sama? Eomma pasti sudah melalui banyak penderitaan sampai bisa bertahan seperti sekarang. Tapi Eomma, bagaimana dengan Yi soo?”


Berhari-hari Woo jin memikirkan itu. Apakah dia masih bisa hidup jika kehilangan Yi soo? Dia kembali ke kebiasaan lamanya, hanya minum kopi saat sarapan. Dan cincin yang pernah dia buat, dia simpan kembali ke dalam kotaknya.

***


Hari itu Woo jin datang menjemput Yi soo. Katanya ada yang mau dia berikan kepada Yi soo. Sebuah kursi yang khusus dibuat untuk Yi soo. Yi soo sangat menyukainya.

***


Woo jin mengantarkan Yi soo pulang. Hari itu turun salju.


“Sebaiknya kita putus,” ucap Woo jin.

“Kau ini kenapa?” Tanya Yi soo.

“Sepertinya lebih baik begitu,” jawab Woo jin. “Jangan makan obat itu lagi. Oke? Cepatlah pulang. Kalau tidak, kau akan masuk angin.”

Dan Woo jin pun melepaskan tangannya dan berbalik meninggalkan Yi soo.

“Woo jin-ah,” panggil Yi soo tapi Woo jin terus berjalan tanpa berbalik.


[Bersambung ke part 4]

03 November 2015

[Sinopsis]. The Beauty Inside: part 2

Bagian sebelumnya Kim Woo jin menyiapkan semua alat tempurnya agar malam itu dia tidak tertidur. Berhasilkah?

Yes, he made it!



Esok harinya dia menjemput Yi soo di tempat kerjanya dan mengajaknya jalan-jalan. Dari sana mereka seperti menemukan kecocokan satu dengan yang lain.


Malam berikutnya Woo jin kembali bekerja. Kali ini kantuk mulai mengalahkannya. Tapi dia berusaha tetap melek. Salah satunya dengan menghubungi Sang baek dan memintanya untuk bercerita padanya. Itu membuat Sang baek menyemprotnya karena mengganggunya tidurnya.

Woo jin menguap lagi tapi dia berhasil tak tidur hingga esok harinya agar kembali bisa bertemu Yi soo.



Dan hari itu dia membawa Yi soo ke took ibunya (Ibunya sama sekali tidak mengenal dirinya). Di sana Yi soo melihat cincin seperti yang di pake Woo jin.


Saat menunggu bis, Woo jin terus menguap. Yi soo yang melihatnya bertanya apa Woo jin semalam tidak tidur dengan baik. Karena dia terlihat seperti akan pingsan. Woo jin tersenyum lalu mengalihkan pembicaraann.

Dia bertanya apa yang Yi soo akan lakukan besok. Yi soo memberitahu Woo jin kalau besok dia harus pulang cepat untuk memperingati hari kematian ibunya. Woo jin terlihat kecewa.

Yi soo akhirnya naik bis tapi Woo jin menyusulnya hanya untuk bertanya, “Bagaimana kalau sarapan bersama?” Yi soo tersenyum mendengarnya.



Woo jin mengantar Yi soo sampai ke depan rumahnya. Lama mereka saling menatap sebelum berpisah. Dan Woo jin pun memutuskan untuk menciumnya.


Di kereta pulang Woo jin terus menguap. Dan yang dia takutnya terjadi. Dia tertidur. Seorang petugas membangunkannya di pemberhentian terakhir.


Keesokan paginya Yi soo menunggunya di halte bis tapi Woo jin tak dating. Tidak! Woo jin sebenarnya ada di sana, di halte yang sama. Hanya saja dia tak mengenalinya karena hari itu Woo jin sudah bukan Woo jin yang kemarin, melainkan seorang ahjussi x_x

Yi soo terus menghubunginya tapi Woo jin memutuskan untuk me-reject panggilan itu. Dia hanya bisa mengirim SMS permintaan maaf karena tak bisa memenuhi janjinya semalam.

‘Dengan begitu, semuanya akan berakhir ‘kan?’

‘Tapi aku sungguh tak mau semuanya berakhir seperti ini. Demi dia, apapun bersedia aku lakukan.’


Maka malam itu Woo jin mendesain sebuah meja yang bisa mewujudkan apa yang Yi soo katakana sewakutu pertama kali mereka makan malam bersama. Sebuah meja yang bisa memutar lagu dari hp dan suara yang dihasikan terdengar seperti keluar dari meja itu.


Begitu meja itu jadi, dia mengirimkannya ke studio Yi soo untuk menjadi sebuah produk yang akan dijual.


Yi soo diminta oleh seniornya untuk membimbing pegawai magang. Dan ternyata salah satu dari mereka adalah Woo jin. Yi soo tentu tak mengenalinya karena kali ini dia sudah berubah lagi menjadi seorang gadis berambut panjang.

Woo jin yang melakukan sesuatu menarik perhatian Yi soo. Saat Yi soo menghampirinya, dia memperkenalkan dirinya sebagai Han Jae kyeong.




Selama bekerja Woo jin-kyeong terus berpikir dan ketika jam kerja berakhir, dia memberanikan diri mengajak Yi soo untuk makan malam bersama. Yi soo yang merasa aneh bertanya apa ada yang ingin Jae kyeong katakana kepadanya. Berhati-hati Woo jin berkata, “Apa Anda masih mengingat seseoarang yang bernama Kim Woo jin?” Yi soo terdiam.


Woo jin-kyeong mengajak Yi soo ke rumahnya. Itu adalah pertama kalinya ada orang lain yang datang ke rumahnya.

Saat masuk ke rumah, Yi soo melihat isi rumah Woo jin adalah kursi kayu yang tertumpuk. Sebuah pemandangan yang tidak asing di matanya. Sebuah pemandangan yang biasa dia lihat saat bersama Woo jin.


Yi soo mulai merasa Woo Jin-kyeong punya maksud yang tidak baik. Dia pun memutuskan untuk pergi dari rumah itu. Tapi sebelum dia tiba di pintu dia mendengar Jae kyeong berkata, “Aku adalah Kim Woo jin.”

Yi soo berdiri membeku.

“Aku bukan Han Jae kyeong. Aku adala Kim Woo jin.”


Segera dia memutarkan video yang selalu dia buat setiap malam sebelum tidur. Yi soo mendengar dan melihat seorang pria yang pernah menjadi salah seorang pelanggannya di video itu. Lalu selanjutnya adalah dia. Kim Woo jin. Pria yang berkencan dengannya selama dua hari.



“Sepertinya ini adalah perasaan yang pertama kali kurasakan. Duduk sampai saat ini tanpa tidur sama sekali adalah sebuah keajaiban. Aku khawatir apa yang akan terjadi selanjutnya tapi sekarang entahlah, aku tidak peduli. Cukup dulu hingga hari ini.”

The next guy yang muncul di video adalah ahjussi yang pernah dia lihat di halte bis.


Woo jin-kyeong pun menceritakan semuanya kepada Yi soo, bahwa dia wajahnya selalu berubah begitu dia terbangun di bangun pagi. Yi soo tidak percaya tapi Woo jin-kyeong menyebutkan semua hal yang pernah mereka lakukan bersama. Dia tahu Yi soo sulit percaya akan apa yang dia ucapkan tapi, “Aku benar-benar menyukaimu.” Woo jin mengucapkan lewat mulut Jae kyeong.

Woo jin-kyeong kembali mencoba meyakinkan Yi soo. Dia memperlihatkan cincin yang dia kenakan dan mencoba mengirimkan sms tapi Yi soo mundur. Dia tidak ingin bertemu lagi dengan Woo jin lalu pergi dari rumah itu.


Hari berlalu. Woo jin terlihat lesu, tak bersemangat. Yi soo pun memikirkan ucapan Woo jin. Apa memang benar ada yang seperti itu? Terbangun di pagi hari dengan wajah yang berbeda dari kemarin?


Semakin hari Woo jin semakin memenuhi kepala Yi soo. Dia bahkan mengira seorang pelanggan sebagai Woo jin karena dia bertanya dengan detail tentang produk yang ingin dia beli, seperti sewaktu pertama kali dia bertemu dengan Woo jin.


Maka dia pun memutuskan untuk datang lagi ke rumah Woo jin. Ragu-ragu dia menekan bel rumah itu.

Seorang wanita, tapi bukan Jae kyong, membuka pintu rumah.

Kali ini Woo jin jadi orang Jepang. Dia tidak bisa berbahasa Korea tapi bisa paham. Dia malah tidak mengerti jika Yi soo bertanya dalam bahasa Jepang.


Hari itu Yi soo dating untuk memastikan keraguannya. Karena itu malam itu, dia ingin tidur bersama Woo jin.

Malam itu mereka bercerita banyak hal termasuk sejak kapan Woo jin jadi seperti itu. Woo jin pun menceritakan semuanya. Juga perasaannya yang kesepian karena setiap hari harus menjadi orang lain.



Esoknya Yi soo bangun lebih dulu. Saat terbangun, orang yang ada di sampingnya masih wanita yang semalam bercerita kepadanya.

Perlahan Yi soo turun dari tempat tidur dan memeriksa sekeliling. Dia melihat isi lemari Woo jin yang terdiri dari pakaian pria dan wanita, sepatu berbagai ukuran, dan kosmetik berbagai merek. Dia juga memeriksa laptop Woo jin dan melihat rekaman yang ada di dalamnya.




Tidak lama Woo jin terbangun. Perlahan dia mendekati Yi soo yang masih melihat videonya. Yi soo menoleh dan terbengong sesaat melihat sosok yang berdiri di hadapannya. Seorang pria. “Woo jin-ssi?” woo jin tersenyum. Begitu pun Yi soo.

Kini yakinlah Yi soo bahwa Woo jin memang mengatakan yang sebenarnya.


[Bersambung ke part 3]